Rabu, 18 Februari 2015

Zulki Harus Bersyukur!



 Dengan bersyukur aku dapat mersakan arti sebuah kebahagian yang utuh
By : Amel



            Malam begitu sunyi senyap aku berjalan di trotoar dengan lesu, kadang aku lelah menjalani rutinitasku.  Seringkali aku mengeluh mengapa aku dilahirkan miskin seperti ini, namun hidup tetap harus berjalan mau ataupun tidak aku harus tetap bertahan.  Hari ini lagi lagi aku kurang beruntung.  Usahaku melamar pekerjaan tak juga membuahkan hasil.  Tapi hal  itu tidak membuatku menyerah.  Aku tetap menaruh keyakinanku dan rasa optimis Sang Maha Kaya akan memberi aku kejutan esok hari. 
            Ku buka pintu rumahku yang sudah reot dan berisik.  Terlihat wajah ibu yang menyabutku dengan sejuta harapan, namun aku membalasnya sinis.  Lelah! Akupun tak menyapa ibu dan ingin segera tertidur.  Terlelap aku dalam malam, terbaring lemas di kasur yang sudah buluk ini.  Syetan dan para iblis senantiasa menggodaku untuk memalingkan muka di jalan-Nya.
            Malam itupun berlalu sangat cepat.  Hingga cerahnya sang mentari membangunkan aku.  Cahayanya begitu menyilaukan namun kehadiranya sangatlah berarti.  Akupun terbangun.  Setiap pagi aku membantu ibu yang sudah tua renta berjualan kue di pasar.  Dengan sabar ku lakukan semua ini semata-mata karena ingin membahagiakan ibu, namun sekian lama aku jalani aku merasapun bosan dengan kehidupan ku yang tidak kunjung lebih baik.  Iri! Yah aku iri! Aku ingin senang-senang melihat orang-orang seusia ku, yang bebas bermain menikmati masa mudanya.  Nongkrong di mall, kafe-kafe berkelas dengan wanita seusiaku.  Sedangkan aku? membantu ibu ku yang sudah reyot ini, bosan.  Ditengah lamunanku suara ibu terdengar memanggilku, akupun sontak kaget.
Ibu : " zul, tolong ambilkan kue ibu!".
Zulki :"ini bu, oh iya bu hari ini aku akan melamar kerja, ada sih kemeja tapi udah jelek dan kurang enak diliat.  Sepatu aku juga udah jelek solnya udah mau lepas, masa masih dipakai bu?".
ibu terdiam sejenak menghela nafas panjang, entah apa yang sedang ibu pikirkan saat itu. Lalu ibu berkata.
Ibu : "Ambilah uang simpanan ibu di lemari untuk membeli kebutuhanmu nak".
Zulki : "Terimakasih bu, doakan akuya biar cepat dapat pekerjaan.  Aku bosan bu harus menjual kue kaya gini terus".
Ibu : “Istigfar nak, ibu membesarkanmu sampe besar seperti sekarang itu dari hasil ibu berjualan kue ini.  Senjak ayahmu meninggal, Cuma membuat kue keahlian ibu yang dapat menghasilkan uang”.
Zulki : “Baiklah, tapi aku juga gak mau bu sampe jaman gajah kurus jualan beginian terus.  Pokoknya ibu harus doakan aku terus biar aku bisa dapet kerja yang gajinya besar!”.  Akupun pergi dengan cepat karena malas berdebat dengan ibu.
            Syetan dalam hati ku lekas berkata "hore aku bisa bermain bersama teman-temanku, ke kafe, ke mall dan belanja-belanja, biar aku ga kalah pamor di depan temen-temen aku".  Lalu pergilah aku ke tempat teman-temanku biasa berkumpul.  Mereka selalu menyambut kedatanganku dengan muka yang tak enak di pandang.  Yah, aku sadar betul siapa aku dan siapa mereka.  Wajarlah aku hanyalah anak ingusan penjual kue.  Akupun menghampiri mereka yang sedang asyik mengobrol.
Zulki : "hay teman-teman boleh ikutan gabung?
Arya  : "loe mau gabung? Udah berapa duit lo? Hmm tapi boleh juga sih lo gabung asal lo bayarin kita malem ini".  Nadanya mencibir.
Zulki : “emang malem ini kalian mau kemana?, berapa duit sih, nih liat”.  Sambil mengeluarkan uang yang ibu berikan sekitar lima ratus ribu.
            Aku pun bergabung dan, tiba-tiba saja aku di ajak ke sebuah restoran tapi lebih tepatnya itu adalah sebuah bar.  Kali pertamanya aku ke tempat seperti ini, gemerlap sorot lampu yang silau dan lagu yang diputar dengan keras membuat aku kaget.  Namun rasanya tak memerlukan waktu yang lama untuk menyesuaikan diri di tempat seperti ini, bagiku ini adalah hal baru yang mengasyikan hingga uang yang ibu beri padaku aku hambur-hamburkan di tempat itu.  Tak sadar hura-hura dan hanyut menikmatinya, memang kehidupan duniawi sangatlah indah dan menyenangkan.
            Hingga semua kenikmatan ini mengalahkan rasa takutku dan akhirnya aku menikmati satu pentung sabu-sabu dan entahlah berapa gelas tepatnya aku menghabiskan minuman.  Entah apa yang aku rasakan ini, tapi ini sangatlah nikmat. Aku setengah tak sadarkan diri seorang wanita menghampiriku, ia adalah teman arya, sebut saja sisca, ia membopongku.  Tak tersadar aku menangis, aku mengucapkan istigfar tertawa lalu menangis lagi.  Seperti anjing gila!
            Sisca mengangkatku ke sofa dan memberiku air putih, ia berkata pada teman-temannya untuk meminta bantuan untuk mengangkatku ke mobilnya.  Keesokan harinya aku terbangun dan ku dapati tubuhku tertidur di sebuah ranjang dan seorang wanita yang masih tertidur di sofa sebelah ranjangku.  Ketika aku berusaha bangun dari ranjang sisca menegurku untuk segera pulang dan cepat temui ibu.  Yah, sisca tahu betul kondisi keluargaku yang miskin dan pas-pasan, rasanya hanya dia wanita yang masih mau berteman denganku meskipun dia tau bahwa aku tidak sekelas dengannya.
            Akupun mengharginya dan menaruh perhatian lebih, ia wanita yang ramah dan sopan.  Tak lama akupun pamit pulang, sejak malam itu hubunganku dengan sisca berlanjut dan kami sering bertukar pikiran, dan juga kamipun sering berbagi pengalaman hidup.  Bercerita panjang, hingga tak ada satu halpun yang aku tutupi darinya.  Pengalaman yang buruk di masa lalu membuatku semakin berpikir dewasa dalam melakukan sesuatu hal, tak hanya itu pengelamanlah memberiku banyak pelajaran hingga kejadian malam itu mempertemukan aku dengan bidadari yang sangat cantik.
            Kehadiran Sisca membuat banyak perubahan dalam hidupku, satu persatu kebiasaan burukku pergi menjauh seakan menghilang dari hidupku.  Dia memberikan aku semangat dan banyak inspirasi.  Sisca lah yang menyadarkanku betapa berartinya seorang ibu.  Aku yang dulu sering mendzalimi ibu dan berbohong kini aku semakin mencoba menghindari hal buruk tersebut.
            Hingga akhirnya Sang Pemberi Segalanya pun mengijinkan aku dan Sisca menjadi membina bahtera rumah tangga, ibu ku pun sangat senang ketika siska tersenyum malu saat menerima pinanganku.  Hidupku terasa lebih lengkap ketika Sisca sudah menjadi istri dan memberikan empat orang anak.  Sujud syukurku tak hentinya aku panjatkan.  Aku memang bukan keluarga kaya, aku hanyalah penjual kue, tapi aku bahagia.  Dengan bersyukur aku dapat mersakan arti sebuah kebahagian yang utuh. 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

Bottom of Form
            Akhirnya aku dan Sisca meneruskan usaha ibu berjualan kue, hingga kini sudah memiliki toko dan cabang di jakarta. Terimakasih ya Allah engkau telah memberikan segala yang aku butuhkan, dan terimakasih karena Sisca telah engkau jadikan sebagai istri yang soleh dari ke empat anak-anakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar